Notification texts go here Contact Us Buy Now!

Sudah Saatnya Pemerintah Indonesia Melarang Penggunaan Plastik Non-Organik

Saatnya Indonesia melarang penggunaan plastik non-organik. Temukan solusi inovatif dan upaya pemerintah untuk mengatasi limbah plastik serta menjaga..
Sudah Saatnya Pemerintah Indonesia Melarang Penggunaan Plastik Non-Organik

Saat ini, plastik banyak digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari peralatan makan dan pembungkus makanan hingga keperluan industri. Sayangnya, selain kesadaran masyarakat yang masih rendah untuk membuang sampah pada tempatnya, ketiadaan mesin daur ulang limbah plastik non-organik di setiap TPA (Tempat Pembuangan Akhir) di Indonesia juga menjadi masalah utama.

Plastik non-organik adalah produk polimerisasi sintetis atau semi-sintetis yang terbentuk dari kondensasi organik atau penambahan polimer dan bisa juga terdiri dari bahan lain untuk meningkatkan kemampuan teknis atau ekonominya. Plastik memiliki sifat elastis sehingga dapat dibentuk menjadi film atau serat sintetis. Selain itu, plastik dapat dirancang dengan berbagai sifat seperti ketahanan panas, kekerasan, dan lainnya sesuai kebutuhan. Produk olahan minyak bumi ini bisa dibentuk dalam berbagai bentuk sesuai kebutuhan manusia, mulai dari plastik untuk gula pasir, sedotan, botol air minum hingga plastik untuk keperluan industri seperti dashboard dan panel pintu. Bahkan, plastik juga digunakan untuk keperluan militer seperti rompi antipeluru dan senjata aloi.

Penggunaan plastik yang meluas dalam masyarakat kita sudah mencapai tingkat yang membahayakan. Berdasarkan data dari Profesor Jenna Jambeck, seorang insinyur lingkungan dari University of Georgia, Amerika Serikat, Indonesia adalah negara peringkat kedua di dunia dalam hal membuang sampah plastik ke laut setelah Tiongkok.

Baca Juga: Menciptakan Generasi Pemikir Kritis Melalui Pendidikan

Kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh limbah plastik non-organik, mulai dari pembuangan di sungai dan danau hingga lautan yang tercemar, menyebabkan banjir. Bahkan di Thailand, seekor paus mati setelah menelan 80 kantong plastik. Secara global, 8 juta ton metrik plastik mencemari lautan setiap tahun. Pada tahun 2050, diperkirakan jumlah plastik yang dibuang ke laut akan lebih banyak daripada jumlah ikan.

Hasil pencemaran plastik di laut adalah kematian ratusan ribu penyu, paus, mamalia laut lainnya, dan lebih dari 1 juta burung laut setiap tahun karena polusi laut dan tertelan atau terjerat sampah laut. Banyak hewan laut tidak dapat membedakan antara makanan dan sampah plastik sehingga sistem pencernaan mereka tersumbat dan menyebabkan kematian.

Sampah plastik membutuhkan waktu sekitar 450 hingga 600 tahun untuk terurai. Misalnya, sebagian besar popok bayi dalam produk plastik olahan mengandung polietilen atau termoplastik, bahan yang digunakan untuk membuat kantong plastik. Tahukah Anda bahwa popok kotor yang dibuang akan tetap berada di tanah selama 450 tahun karena sulit terurai? Sementara itu, tali pancing membutuhkan waktu sekitar 600 tahun untuk terurai.

Bagaimana Kita Dapat Mengantisipasi Penggunaan Plastik Non-Organik?

Seperti disebutkan sebelumnya, Indonesia adalah produsen sampah plastik terbesar kedua di dunia setelah Tiongkok. Karena banyaknya sampah plastik, sungai-sungai di Indonesia menjadi tersumbat oleh sampah plastik. Empat sungai di Indonesia yang termasuk paling kotor di dunia adalah Sungai Brantas, Bengawan Solo, Serayu, dan Progo.

Sampai saat ini, ajakan untuk membuang sampah, terutama sampah plastik, tampaknya tidak berarti dibandingkan dengan jumlah sampah yang dibuang sembarangan. Diperlukan tindakan komprehensif dan terintegrasi dengan melarang penggunaan plastik non-organik di rumah tangga. Larangan ini perlu diimbangi dengan regulasi penggunaan plastik organik untuk kebutuhan rumah tangga dan, jika memungkinkan, hingga kebutuhan industri menengah.

Saya tidak berpikir penggunaan plastik non-organik untuk kebutuhan industri besar mungkin dilakukan. Selain produksi plastik organik yang masih terbatas dan relatif mahal, kualitas pengolahan plastik organik masih membutuhkan penelitian lebih lanjut sebelum dapat digunakan secara massal.

Selain itu, pemerintah dapat memanfaatkan berbagai teknologi terbaru untuk mengolah limbah plastik, beberapa di antaranya bahkan merupakan hasil penemuan dan inovasi anak bangsa Indonesia yang telah terbukti keunggulannya di luar negeri. Temuan mereka dibahas dalam diskusi berikut:

Pengolahan Limbah Plastik untuk Produk Bangunan

Botol plastik bekas yang diperdagangkan oleh pemulung ternyata di tangan mahasiswa Diploma 3 Teknik Sipil Politeknik Negeri Malang (Polinema) dapat didaur ulang menjadi berbagai produk bangunan, seperti keramik, bata, batu berlubang, pilar, atau partisi bangunan.

Pemerintah dapat memanfaatkan tenaga dan pikiran komunitas universitas untuk membuat perangkat daur ulang sampah plastik domestik dengan harga lebih rendah, namun tidak murahan. Dengan anggaran yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan peralatan pengolahan sampah plastik luar negeri, peralatan pengolahan sampah domestik dapat didistribusikan secara luas di seluruh Indonesia, menciptakan lapangan kerja baru, dan mengurangi pengangguran.

Pengolahan Limbah Plastik untuk Campuran Aspal

Pada tahun 2008, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Badan Penelitian dan Pengembangan PUPR melakukan penelitian tentang kantong plastik sebagai campuran aspal. Hasilnya, jalan yang diaspal dengan campuran kantong plastik lebih tahan terhadap deformasi dan retak lelah dibandingkan dengan aspal campuran panas biasa.

Limbah plastik dari kantong belanja dapat menambah daya rekat jalan. Ketika disebar di aspal panas dan suhu diukur pada 150–180 derajat Celsius, plastik tidak terdegradasi dan masih jauh dari ambang aman untuk degradasi limbah, yaitu pada suhu 250–280 derajat Celsius, di mana plastik melepaskan racun.

Dengan penggunaan aspal campuran ini, pemerintah dapat menjual aspal campuran secara tidak langsung kepada masyarakat dengan harga yang jauh lebih rendah tetapi dengan kekuatan di atas aspal biasa. Dengan demikian, dapat memberikan pekerjaan kepada masyarakat yang membutuhkannya.

Sosialisasi Penggunaan Plastik Organik di Masyarakat

Sebuah perusahaan di Bali baru-baru ini mengembangkan bioplastik yang dapat terurai dari ekstrak jagung. Produk yang dihasilkan adalah cangkir, sedotan, dan peralatan makan sekali pakai yang dapat terurai. Meskipun terlihat seperti produk plastik biasa, plastik ramah lingkungan ini tidak mudah robek dan dapat diolah dalam mesin pengolahan plastik konvensional. Pada saat yang sama, limbah yang dibuang dapat terurai dengan cepat menjadi kompos dan tidak meninggalkan residu beracun. Namun, produk plastik ini sebaiknya diurai di fasilitas kompos komersial untuk hasil daur ulang yang optimal.

Pendiri perusahaan ramah lingkungan ini, Kevin Kumala, menjelaskan bahwa ide membuat produk bioplastik berasal dari kecintaannya pada menyelam, di mana sampah plastik sering terlihat di area penyelaman.

Baca Juga: Ketika Menghindari Tanggung Jawab Tidak Hanya Membahayakan Anda, Tetapi Juga Orang Lain

Salah satu produk populer Kevin Kumala adalah kantong plastik yang terbuat dari singkong. Kantong ini bahkan bisa langsung diminum. Anda melakukannya dengan mencelupkan kantong ke dalam segelas air panas. Kantong akan larut dalam air dan bisa langsung diminum, sehingga memberikan harapan kepada hewan laut. Mereka tidak akan lagi tersedak atau menelan sesuatu yang bisa membahayakan hidup mereka.

Ringkasan

Plastik adalah bagian integral dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia saat ini. Kita sering menggunakan plastik sekali pakai dalam aktivitas sehari-hari, seperti kantong plastik, sedotan, botol, dan lainnya.

Intervensi pemerintah dalam bentuk regulasi yang melarang penggunaan plastik non-organik dan mengalokasikan anggaran untuk penelitian serta subsidi untuk penjualan plastik organik sangat dibutuhkan di sini agar masyarakat memiliki kesadaran untuk menggunakan plastik organik dalam kehidupan mereka.

Pemerintah harus mengambil pendekatan multi-level ke setiap elemen pemerintahan dan setiap level dalam komunitas bisnis serta mensosialisasikan penggunaan plastik organik untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Berikan insentif kepada pengusaha UMKM untuk menggunakan pengolahan plastik organik dalam berbagai komoditas.

Polusi yang disebabkan oleh penggunaan plastik non-organik rumah tangga telah mencapai tahap lampu merah. Semua pihak harus sadar bahwa bahaya polusi plastik rumah tangga ada tepat di depan mata mereka. Luangkan waktu dan pikiran kita sejenak untuk menemukan solusi untuk mengolah limbah plastik non-organik yang marak di mana-mana. Manfaatkan hasil penelitian generasi muda kita untuk mengatasi polusi yang disebabkan oleh limbah plastik non-organik.

Bangsa dan negara ini telah dipercayakan kepada kita oleh para pendiri bangsa untuk kesejahteraan seluruh masyarakat dan bangsa Indonesia. Apakah kita akan mewariskan sampah plastik kepada anak cucu kita dan disebut sebagai perusak alam, atau kita akan mulai mengubah situasi untuk memperbaiki bangsa dan negara, dimulai dengan mengganti plastik non-organik dengan plastik organik yang ramah lingkungan? Hanya waktu yang bisa menjawab.

Tag : Plastik Non-Organik, Larangan Plastik, Limbah Plastik, Pengolahan Sampah, Plastik Ramah Lingkungan, Daur Ulang Plastik, Indonesia Bebas Plastik, Solusi Limbah Plastik, Teknologi Pengolahan Sampah, Kebijakan Lingkungan, Polusi Plastik, Pencemaran Laut, Bioplastik, Inovasi Lingkungan

About the Author

I am passionate about BIM (Building Information Modeling) and enthusiastic about education and content writing.

Posting Komentar

Cookie Consent
We serve cookies on this site to analyze traffic, remember your preferences, and optimize your experience.
Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
AdBlock Detected!
We have detected that you are using adblocking plugin in your browser.
The revenue we earn by the advertisements is used to manage this website, we request you to whitelist our website in your adblocking plugin.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.