Notification texts go here Contact Us Buy Now!

Mengapa BIM Penting untuk Industri Konstruksi di Indonesia?

Pelajari mengapa Building Information Modeling (BIM) penting untuk industri konstruksi di Indonesia. Temukan keuntungan, penerapan, dan tantangan BIM
Please wait 0 seconds...
Scroll Down and click on Go to Link for destination
Congrats! Link is Generated
Life Cylce BIM di Proyek Konstruksi - Sumber Springer

Building Information Modeling (BIM) adalah proses holistik untuk menciptakan dan mengelola informasi mengenai aset bangunan. Dengan menggunakan model cerdas dan didukung oleh platform cloud, BIM mengintegrasikan data terstruktur dari berbagai disiplin ilmu untuk menghasilkan representasi digital dari aset sepanjang siklus hidupnya, mulai dari perencanaan dan desain hingga konstruksi dan operasional.

Apa Itu Building Information Modeling (BIM)?

Building Information Modeling (BIM) adalah sebuah proses yang berbasis model 3D yang memberikan wawasan dan alat untuk merencanakan, mendesain, mengelola, dan membangun proyek konstruksi dengan lebih efisien. BIM mencakup pengelolaan informasi dan kolaborasi di seluruh siklus hidup proyek, mulai dari perencanaan awal hingga penyelesaian dan operasional. BIM memungkinkan semua pemangku kepentingan dalam proyek konstruksi, seperti arsitek, insinyur, dan kontraktor, untuk bekerja pada satu model yang terintegrasi, sehingga meningkatkan koordinasi dan mengurangi kesalahan.

Pemahaman mengenai Building Information Modeling (BIM) sendiri perlu diluruskan terlebih dahulu, yang mana pengaplikasian BIM itu bukan hanya sekedar menggunakan perangkat lunak dalam pengerjaan suatu proyek konstruksi. Pengaplikasian BIM tersebut memang membutuhkan perangkat lunak khusus, seperti Autodesk Revit, ArchiCAD, AECOSim, dan software lainnya, namun sekedar penerapan software tersebut hanya menjabarkan kulit luar dari pengaplikasian metode BIM itu sendiri.

Oleh karenanya, Building Information Modeling (BIM) harus didefiniskan sebagai: sistem, manajemen, metode atau runutan pengerjaan suatu proyek yang diterapkan berdasarkan informasi terkait dari keseluruhan aspek bangunan yang dikelola dan kemudian diproyeksikan kedalam model 3 dimensi.

Mengapa BIM Penting untuk Industri Konstruksi di Indonesia?

Penerapan BIM dalam industri konstruksi di Indonesia menjadi semakin penting karena berbagai alasan. Teknologi ini tidak hanya membantu dalam meningkatkan efisiensi dan produktivitas, tetapi juga mendukung praktik pembangunan yang lebih berkelanjutan. Di tengah persaingan global yang ketat dan kebutuhan akan infrastruktur yang lebih baik, BIM menawarkan solusi yang dapat membawa industri konstruksi Indonesia ke tingkat yang lebih tinggi. 

Sejumlah perusahaan besar di industri konstruksi Indonesia telah menerapkan Building Information Modeling (BIM) salah satunya BUMN PT. Pembangunan Perumahan (PT PP) dan PT. Total Bangun Persada dari sektor swasta juga termasuk di antaranya. Metode BIM juga mulai diadopsi oleh pengembang seperti PT. Intiland dan oleh konsultan perancangan seperti PT. PDW Architects. 

Akan tetapi meskipun telah digunakan selama beberapa tahun, penerapan BIM di Indonesia dirasakan belum optimal dan cenderung stagnan. Keuntungan dari BIM memang sesuai dengan harapan masing-masing pihak, tetapi di sektor konstruksi Indonesia, penerapannya masih terbatas pada efisiensi tenaga kerja, waktu, dan biaya. Jika dibandingkan dengan penerapan di Amerika Serikat, potensi penggunaan BIM di Indonesia masih jauh dari maksimal.

Baca Juga: Metode Pelaksanaan Manajemen Proyek Konstruksi

Teknologi Building Information Modeling (BIM) telah dikenal di Amerika Serikat sejak tahun 2003, dimulai dengan 9 proyek percobaan oleh General Service Administration (GSA). Pada tahun 2006, GSA meluncurkan 3 proyek percobaan lainnya menggunakan pemindai laser untuk membuat model BIM as-built dari bangunan. Hasilnya digunakan untuk merencanakan pengembangan bangunan di masa depan. 

Sejak inisiasi ini, penggunaan BIM di Amerika Serikat berkembang pesat, dengan 50% industri sudah mengaplikasikannya pada tahun 2009, meningkat 75% dari tahun 2007. GSA terus mengarahkan penggunaan BIM berbasis Industry Foundation Classes (IFC) dan mengutamakan keuntungan lainnya seperti analisis energi dan penghematan kertas. Mereka juga menuntut adanya standar nasional BIM, bekerja sama dengan organisasi real estat global, dan membuat demonstrasi desain hemat energi dalam proyek-proyek seperti San Francisco Federal Building Project. 

Belajar dari penerapan BIM di Amerika Serikat, industri arsitektur, engineering, dan konstruksi di Indonesia belum sepenuhnya melihat potensi yang bisa dikembangkan. Penerapan BIM di Indonesia masih sporadis dan kurang terkoordinasi, tanpa lembaga atau organisasi yang mengkoordinasi antar stakeholder. Langkah awal yang dapat dilakukan adalah membentuk organisasi profesional seperti GSA di Amerika Serikat untuk mendorong aplikasi BIM di semua sektor AEC di Indonesia secara aktif. Organisasi ini juga bertugas menyusun visi dan misi jangka panjang untuk penggunaan BIM, sehingga perkembangan BIM di Indonesia tidak stagnan.

Penerapan BIM di Proyek Konstruksi
Posisi Arsitek dan Enginner dalam Penerapan BIM di Proyek Konstruksi

Keuntungan Penggunaan BIM dalam Industri Konstruksi

Peningkatan Kolaborasi

BIM memungkinkan berbagai pemangku kepentingan untuk bekerja pada satu model yang sama. Hal ini meningkatkan koordinasi dan komunikasi antar tim, sehingga mengurangi potensi kesalahan dan konflik yang mungkin terjadi di lapangan. 

Efisiensi Waktu dan Biaya

Dengan BIM, deteksi masalah dapat dilakukan sejak dini pada tahap desain. Hal ini mengurangi risiko kesalahan yang mahal dan perubahan desain yang memakan waktu. Proyek dapat diselesaikan lebih cepat dan dengan biaya yang lebih efisien. 

Pengelolaan Proyek yang Lebih Baik

BIM menyediakan visualisasi yang jelas dari setiap tahap proyek, memungkinkan perencanaan yang lebih baik dan pengawasan yang lebih akurat. Ini membantu manajer proyek untuk mengontrol setiap aspek proyek dengan lebih efektif. 

Keberlanjutan

Dengan penggunaan BIM, desain yang lebih efisien dan ramah lingkungan dapat dicapai. BIM memungkinkan analisis yang lebih baik terhadap dampak lingkungan dari berbagai opsi desain, sehingga mendukung praktik konstruksi yang berkelanjutan.

Tantangan Penggunaan BIM di Indonesia

Kurangnya Pengetahuan dan Keterampilan

Salah satu tantangan terbesar adalah kurangnya pengetahuan dan keterampilan terkait BIM di kalangan profesional konstruksi di Indonesia. Diperlukan pelatihan yang intensif dan pendidikan berkelanjutan untuk meningkatkan pemahaman dan kemampuan penggunaan BIM. 

Resistensi terhadap Perubahan

Banyak perusahaan konstruksi yang masih enggan meninggalkan metode tradisional yang telah mereka gunakan selama bertahun-tahun. Mengadopsi BIM membutuhkan perubahan budaya dan proses kerja yang signifikan, yang kadang kala menghadapi resistensi dari berbagai pihak. 

Biaya Implementasi Awal

Meskipun BIM dapat menghemat biaya dalam jangka panjang, biaya implementasi awal yang tinggi bisa menjadi penghalang bagi beberapa perusahaan, terutama yang berskala kecil dan menengah. Investasi dalam perangkat lunak BIM dan pelatihan staf bisa menjadi beban finansial yang cukup besar.

Keterbatasan Infrastruktur Teknologi

Keterbatasan infrastruktur teknologi di beberapa daerah di Indonesia juga menjadi tantangan dalam penerapan BIM. Koneksi internet yang lambat dan kurangnya perangkat keras yang memadai dapat menghambat optimalisasi penggunaan BIM.

Level penerapan BIM
Level penerapan BIM - Sumber PBC Today

Level Penerapan BIM

Terdapat berbagai definisi tentang tingkat atau level penerapan BIM pada suatu proyek. Secara umum, pendefinisian level penerapan BIM dikelompokkan dalam tiga tingkatan, dimulai dari level 0 (nol) hingga level 3 (tiga). Beberapa negara seperti Inggris dan Singapore telah menyaratkan penggunaan BIM level 2 pada proyek infrastruktur. Berikut adalah definisi dari tiap tingkatan BIM:

Level 0

BIM Level 0 BIM adalah tingkatan paling dasar dalam BIM, di mana tidak ada kolaborasi sama sekali. Proyek diselesaikan menggunakan perangkat lunak Computer Aided Design (CAD) 2D. Output dan distribusi hasil kerja hanya dilakukan melalui bentuk kertas atau cetakan elektronik, atau campuran keduanya【NBS National BIM Report 2017】. 

Level 1 BIM

Pada Level 1 BIM, pekerjaan mencakup 3D CAD untuk konsep dan 2D untuk dokumentasi. Di Inggris, standar dokumen CAD diatur dalam British Standard (BS) Code 1192:2007. Distribusi data elektronik mulai dilakukan melalui sistem yang disebut Common Data Environment (CDE), yang biasanya dikelola oleh kontraktor dan dibagikan dengan pengguna jasa serta konsultan. 

Baca Juga: Cara Alami untuk Membersihkan Udara Ruangan di Rumah

Untuk mencapai BIM Level 1, Scottish Futures Trust menyarankan beberapa hal: peran dan tanggung jawab harus disepakati oleh para stakeholder; konvensi penamaan proyek dan file harus diadopsi; penggunaan CDE sebagai sistem manajemen dokumen elektronik harus diimplementasikan untuk memungkinkan berbagi informasi antara semua anggota tim proyek; dan hirarki informasi yang mendukung konsep CDE dan penyimpanan dokumen harus disetujui. 

Level 2 BIM

Level 2 BIM menunjukkan tingkat kolaborasi yang lebih tinggi dan memerlukan proses pertukaran informasi yang khusus dan terkoordinasi antara berbagai sistem dan peserta proyek. Setiap perangkat lunak CAD yang digunakan harus dapat mengekspor ke format file umum seperti IFC (Industry Foundation Class) atau COBie (Construction Operations Building Information Exchange). Pemerintah Inggris telah menetapkan Level 2 BIM sebagai target minimum untuk semua pekerjaan di sektor publik.

Level 3 BIM

Level 3 BIM mencakup model yang dapat dilihat dan diakses secara online, pembuatan model proyek dengan urutan konstruksi, serta manajemen informasi untuk biaya dan siklus hidupnya. BIM Level 3 juga mengharuskan pembuatan standar baru 'Data Terbuka' internasional, pembentukan kerangka kontrak baru untuk memastikan konsistensi, penciptaan budaya kooperatif untuk belajar dan berbagi, serta pelatihan klien sektor publik dalam teknik BIM seperti persyaratan data, metode pelaksanaan operasional, dan proses kontrak.

Secara umum, definisi multi dimensi pada penerapan BIM dijelaskan sebagai berikut:

Multi Dimensi BIM pada Penerapan di AEC
Multi Dimensi BIM pada Penerapan di AEC

Kesimpulan

Building Information Modeling (BIM) adalah sistem manajemen terpadu yang memanfaatkan model cerdas dan platform cloud untuk mengelola informasi dari berbagai disiplin ilmu terkait semua aspek bangunan. Informasi ini diolah untuk menghasilkan representasi digital tiga dimensi dari aset bangunan sepanjang siklus hidupnya, mulai dari perencanaan dan desain hingga konstruksi dan operasional. 

Meskipun menghadapi sejumlah tantangan, keuntungan dari penggunaan BIM dalam industri konstruksi di Indonesia sangat besar. Dengan peningkatan kolaborasi, efisiensi waktu dan biaya, pengelolaan proyek yang lebih baik, serta dukungan terhadap keberlanjutan, BIM dapat membawa transformasi signifikan dalam cara proyek konstruksi direncanakan dan dijalankan. Mengatasi tantangan yang ada melalui pelatihan, perubahan budaya kerja, dan investasi dalam teknologi adalah kunci untuk memaksimalkan potensi BIM di Indonesia.

tag : BIM, Industri Konstruksi, Indonesia, Building Information Modeling, Manfaat BIM, Penerapan BIM, Teknologi Konstruksi, Keuntungan BIM, Tantangan BIM

About the Author

I am passionate about BIM (Building Information Modeling) and enthusiastic about education and content writing.

Posting Komentar

Cookie Consent
We serve cookies on this site to analyze traffic, remember your preferences, and optimize your experience.
Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
AdBlock Detected!
We have detected that you are using adblocking plugin in your browser.
The revenue we earn by the advertisements is used to manage this website, we request you to whitelist our website in your adblocking plugin.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.