Macam-Macam Sistem Irigasi dan Sejarah Irigasi di Indonesia

Macam-Macam Sistem Irigasi dan Sejarah Irigasi di Indonesia - Air menjadi sumber kehidupan bagi manusia yang akan selalu memenuhi kebutuhan baik rumah tangga yaitu sebagai air minum, kebutuhan pembangkit listrik sampai dengan irigasi untuk pertanian. Indoensia menjadi salah satu negara agraris yang sangat membutuhkan keberadaan air sebagai penunjang sektor pertanian. Air irigasi di Indonesia biasanya dialirkan dari sungai, waduk, air tanah dan limpahan air hujan.  

Menurut Priyonugroho (2014) Kebutuhan air irigasi adalah jumlah volume air yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan evaporasi, kehilangan air, kebutuhan air untuk tanaman dengan memperhatikan jumlah air yang diberikan oleh alam melalui hujan dan kontribusi air tanah. Besarnya kebutuhan air irigasi juga bergantung kepada cara pengolahan lahan. Kebutuhan akan air yang terus meningkat yang diiringi dengan pertambahan jumlah penduduk mengakibatkan ketersediaan air yang semakin langka. Oleh karena itu, perlu pemanfaatan air yang seefisien dan seefektif mungkin. Salah satu solusi ialah dengan memanfaatkan air dalam jaringan irigasi.

Percabangan Selokan Mataram dengan Selokan Van Der Wijck

Menurut Drajat (2017) Efisiensi pemanfaatan air irigasi menjadi hal utama pada daerah dengan ketersediaan air yang terbatas. Hal ini terkait dengan besarnya kehilangan air di jaringan irigasi yang disebabkan penguapan, pengambilan air untuk keperluan lain, atau kebocoran di sepanjang saluran. Berdasarkan Kriteria Perencanaan Irigasi Bagian Saluran (KP-03), besarnya kehilangan air di jaringan irigasi dapat diminimalkan dengan cara perbaikan sistem pengelolaan air dan perbaikan fisik prasarana irigasi. Menurut Hansen, V.E dan O.W Israelsen dalam Drajat (2017) menyatakan bahwa efisiensi irigasi merupakan perbandingan antara jumlah air yang dimanfaatkan secara efektif oleh tanaman pada jumlah air yang diberikan. Dengan demikian pembangunan saluran irigasi sangat diperlukan untuk menunjang penyediaan bahan pangan sehingga ketersediaan air di lahan akan terpenuhi walaupun lahan tersebut berada jauh dari sumber air permukaan (sungai). Hal tersebut tidak terlepas dari usaha teknik irigasi yaitu memberikan air dengan kondisi tepat mutu, tepat ruang dan tepat waktu dengan cara yang efektif dan ekonomis.

Pengertian Irigasi

Menurut peraturan pemerintah nomor 20 tahun 2006 tentang irigasi pada ketentuan umum BAB I pasal 1 irigasi dapat diartikan sebagai usaha penyediaan, pengaturan dan pembuangan air irigasi untuk menunjang pertanian yang jenisnya adalah irigasi permukaan, rawa, air bawah tanah, pompa, dan tambak. Dari peraturan pemerintah tersebut dapat diperhatikan bahwa dalam memenuhi kebutuhan air khususnya kebutuhan air di persawahan maka perlu didirikan system irigasi dan bangunan bendung.

Kebutuhan air pada irigasi berdasarkan Standar Perencanaan Irigasi Bagian Perencanaan Jaringan Irigasi (KP-01) merupakan jumlah volume yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan evaporassi, kehilangan air, kebutuhan air untuk tanaman dengan memperhatikan jumlah air yang diberikan oleh alam melalui hujan dan konstribusi tanah. Kebutuhan air untuk persawahan dapat ditentukan melalui factor-faktor yaitu : penyiapan lahan, penggunaan konsumtif, perkolasi rembesan, pergantian lapisan air dan curah hujan efektif.

Berdasarkan uraian dan pendapat diatas disimpulkan bahwa irigasi adalah upaya manusia untuk mengambil air dari sumber, mengalirkannya ke dalam saluran, membagikan ke petak sawah, memberikan air pada tanaman, dan membuang kelebihan air ke jaringan pembuang yang bertujuan untuk mengalirkan air secara teratur sesuai kebutuhan tanaman pada saat persedian air tanah tidak mencukupi untuk mendukung pertumbuhan tanaman, sehingga tanaman bisa tumbuh secara normal. Pemberian air irigasi yang efisien selain dipengaruhi oleh tata cara aplikasi, juga ditentukan oleh kebutuhan air guna mencapai kondisi air tersedia yang dibutuhkan tanaman.

Sejarah Irigasi di Indonesia

Irigasi sudah terkenal sejak jaman mesir kuno dengan memanfaatkan Sungai Nil. Di Indonesia irigasi tradisional sudah ada sejak jaman nenek moyang. Hal ini dapat diamati pada cara bercocok tanam pada masa kerajaan-kerajaan pada zaman dahulu. Dahulu orang-orang kerajaan membendung kali secara bergantian untuk mengairi persawahan. Cara lainnya yaitu dengan mencari sumber mata air dari pegunungan atau dataran tinggi kemudian dialiri dengan bamboo yang bersambung.

Jembatan Air Selokan Van Der Wijck di Tempel, Sleman

Di Belanda sistem irigasi merupakan salah satu upaya utuk menerapkan tanam paksa (Cultuurstelsel) pada tahun 1830. Dalam system tanam paksa tersebut pemerintah Hindia Belanda mengupayakan supaya semua lahan yang dibuat persawahan maupun perkebunan dapat menghasilkan panen yang optimal dalam upaya mengekplotasi tanah yang dijajahnya.

Sejak zaman dahulu sistem irigasi sudah mengenalkan saluran primer, sekunder, ataupun tersier. Tetapi sumber air belum memakai sistem waduk serbaguna seperti TVA di Amerika Serikat. Aliran air yang menggunakan sitem irgasi zaman dahulu sangat lama disalurkan dari sumber kali yang disusun dalam sistem irigasi terpadu untuk memenuhi kebutuhan pengairan persawahan, selain itu para petani juga diharuskan membayar uang iuran untuk sewa pemakaian air yang dialiri kepada sawah pemilik petani.

Setelah perkembangan teknologi sistem irigasi mulai berkembang menjadi modern. Awal mula penggunaan sistem irigasi modern yaitu pada abad XIX sebagai upaya mengatasi kelaparan yang terjadi di jawa tengah. Perkembangan pesat terjadi pada abad XX setelah dikumandangkannya politik etik oleh pemerintah jajahan dan ditemukannya teknologi irigasi untuk dataran rendah.

Pada tahun 1871 dibentuk sebuah komisi yang diketahui oleh R. De Bruyn, bekas Direktur Jendral BOW (Burgelijke Openbare Werken) untuk mempersiapkan pembangunan irigasi secara besar-besaran. Sebagai hasil dari komisi de bruyn dibentuk suatu bagian khusus dari BOW yang menangani irigasi. Bagian tersebut yang mula-mula disebut brigade irigasi menjadi afdeling irigasi (bagian irigasi). Pada 1889 mulai diresmikan berdirinya Afdeling Serayu Komisi de Bruyn juga mengusulkan dibentuknya dinas ekploitasi untuk mengelola sungai dan sumber daya air lainnya termasuk untuk irigasi dan drainase.

Buk Renteng Sistem Irigasi yang berapa di atas Jalan - Gambar oleh : bionmotret 

Pada tahun 1890 dibuat rencana besar pembangunan irigasi (workplan 1890) untuk mengairi areal irigasi seluas 577.000 bau (409.670 ha) di Jawa dengan perkiraan biaya sebesar 35.525.000 gulden. Kemudian Pada tahun 1936 mulai diberlakukan peraturan umum tata air (Het algemen water reglement). Salah satu unsur penting AWR adalah tata tanam (cultuur plan) pada daerah irigasi terutama pada daerah irigasi yang airnya tidak cukup di musim kemarau. AWR juga membedakan gadu menurut prioritas berdasarkan kriteria tertentu, dan membedakan antara gadu teratur dan tidak teratur.

Macam-Macam Irigasi

Ada beberapa jenis sistem irigasi yang digunakan, macam irigasi ini dibedakan menjadi :

1. Irigasi Berdasarkan Status Jaringan Irigasi

  • Irigasi Pemerintah Adalah jaringan irigasi yang dibangun dan dikelola oleh pemerintah, baik pemerintah pusat atau pemerintah daerah. Irigasi pemerintah umumnya berukuran besar. 
  • Irigasi Desa Adalah jaringan irigasi yang dibangun dan dikelola oleh masyarakat desa. Tidak jarang masyarakat desa secara gotong royong membangun sendiri jaringan irigasinya, karena pembangunan dari pemerintah belum mampu menjangkau daerahnya. Ukuran luas irigasi desa berkisar antara 100 – 500 ha dengan kelengkapan jaringan yang lebih sederhana. 
  • Irigasi Swasta Adalah jaringan irigasi yang dibangun dan dikelola oleh swasta atau perseorangan untuk keperluannya sendiri, misalnya jika swasta membuka usaha perkebunan maka dapat membangun dan mengelola jaringan irigasi untuk keperluannya sendiri.

2. Irigasi Berdasarkan Tingkat Teknis

  • Irigasi Teknis Adalah jaringan irigasi dimana airnya diatur dan dapat diukur. Untuk dapat mengatur air yang masuk atau keluar, jaringan irigasi ini dilengkapi dengan pintu. Untuk mengukur besarnya aliran air, jaringan irigasi ini dilengkapi dengan bangunan ukur yang bisa berupa papan berskala, bangunan ukur khusus ( contoh: Cipoleti, Venturi dan lain-lain). Umumnya pintu air dimanfaatkan sekaligus berfungsi sebagai bangunan ukur, misalnya: pintu sorong, pintu Romijn, Crump de Gruyter dan sebagainya). Bahan bangunan dalam sistem irigasi ini lebih lengkap.
  • Irigasi Semi Teknis Adalah jaringan irigasi yang airnya dapat diatur tetapi tidak diukur. Jaringan ini dilengkapi dengan pintu tetapi tidak dengan bangunan ukur. 
  • Irigasi Sederhana Adalah jaringan irigasi yang tidak dilengkapi bangunan ukur maupun pintu. Kalaupun ada pintu, bangunan pintu itu tidak permanen dan sangat sederhana sehingga mudah rusak.

3. Irigasi Berdasarkan Aplikasi Air

  • Irigasi Genangan Adalah pemberian air dengan cara menggenangi lahan tempat tanaman tumbuh. Irigasi genangan ini diperuntukkan bagi tanaman padi. Di negara tropis seperti Indonesia, tingginya genangan antara 15 – 20 cm yang berguna bagi: (1) Menjaga temperatur tanaman agar tidak terlalu panas, (2) Melarutkan pupuk agar mudah terserap akar tanaman, (3) Mengurangi/menangkal serangan hama dan sekaligus dapat untuk memelihara ikan dalam petak sawah. 
  • Irigasi Springkler Adalah pemberian air dengan cara menyiram tanaman. Cara ini digunakan bagi tanaman hortikultura atau tanaman lain yang tidak memerlukan banyak air. Di negara yang bukan tropis, karena temperaturya tidak tinggi, hampir seluruh irigasinya dilakukan dengan springkler, seperti tanaman gandum, rumput, buah-buahan berpohon kecil dan tanaman kecil lainnya.
  • Irigasi tetes (drip) Adalah pemberian air dengan cara meneteskan. Cara pemberian air seperti ini dilakukan bagi tanaman besar yang tidak memerlukan air banyak.

4. Irigasi Berdasarkan Tujuan Penggunaan Air

  • Irigasi Persawahan Adalah irigasi untuk memberi air ke sawah atau lahan tanaman lainnya. 
  • Irigasi Tambak Adalah jaringan irigasi untuk mengalirkan air bagi pertambakan. Sebagaimana kita tahu bahwa perikanan tambak memerlukan air payau yakni campuran antara air tawar umumnya sisa air persawahan. Namun demikian makin intensifnya penggunaan pupuk kimia dan pestisida yang berlabihan, maka mutu air tawarnya sangat rendah dan justru menjadi racun bagi ikan di tambak. Karena itu dibangunlah irigasi khusus untuk pertambakan.

5. Irigasi Berdasarkan Sumber Air

Irigasi Persawahan adalah irigasi yang sumber airnya dari air yang mengalir diatas permukaan tanah misalnya dari sungai atau air dari danau atau waduk Irigasi tersebut dibedakan atas tiga golongan, yaitu : 

1) Irigasi Alur (furrow irrigation) Air irigasi dialirkan melalui alur-alur di sela-sela petakan untu dapat mengairi tanaman di sebelah kanan dan kirinya. Sistem irigasi ini sangat cocok untuk tanaman yang ditanam secara lajur, seperti jagung, tebu, kentang, tomat dan buah-buahan. Alur biasanya dibuat dengan dengan mengikuti kemiringan lahan dan kemiringan alur minimum berkisar 0,05%, sebaiknya antara 15-40 cm. Panjang alur biasanya antara 25-500 m sedangkan jarak alur satu dengan yang lainnya berkisar antara 0,3-2 m. Kelebihan lain dari sistem ini adalah tanaman tidak secara langsung terkena air yang dapat mempengaruhi produksi baik kuantitas maupun kualitas.

Sekema Irigasi Alur atau furrow irrigation 

2) Irigasi Bergelombang Sistem irigasi ini hampir sama dengan sistem alur, hanya lebih rendah dan lebih lebar Irigasi gelombang biasanya digunakan terutama untuk tanaman padi-padian maupun rumput makanan ternak. Sistem irigasi model ini di Indonesia belum banyak dikenal. 

Sekema Irigasi Gelombang

3) Irigasi Penggenangan Petak Alur Caranya adalah lahan dibuat petakan yang masing-masing petakan dibatasi oleh galengan atau pematang, di sebelah atas dibatasi oleh saluran pembawa kemudian di sebelah bawah oleh saluran pembuang (drainasi). Irigasi petak jalur sungai cocok untuk tanaman padi-padian, rumput makanan ternak dan tanaman lainnya yang ditanam dengan jarak yang rapat. 

Sekema Irigasi Petak Alur

Irigasi Air Tanah adalah irigasi yang sumber airnya dari air yang berada dibawah permukaan tanah padat. Untuk dapat memanfaatkannya, air dipompa sampai permukaan tanah kemudian dialirkan ke lahan. Pengembangan irigasi air tanah ini harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Salah satu segi positif pemanfaatan air tanah segi positif pemanfaatan air tanah ialah sebagai proyek yang dapat segera dimanfaatkan (quick yielding) karena pembuatan sumur bor (tube well) dan pemasangan pompa dapat segera dilakasakan bagi daerah tertentu yang baik potemsi air tanahnya.

Daftar Pustaka : 

1. Drajat, A.R, Nurrochmad, F., & Jayadi, R. (2017). Analisis Efisiensi Saluran Irigasi Di        Daerah Irigasi Boro Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah. Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur, 13(2), 154-166. doi: https://doi.org/10.21831/inersia.v13i2.17178 
2. Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman. 2020. 
3. Sejarah Irigasi di Indonesia Edunitas (2022). Irigasi . Universitas Krisnadwipaya. Tersedia online di : https://p2k.unkris.ac.id/id3/1-3073-2962/Pengairan_28119_p2k-unkris.html (terahir di akses 15 Mei 2022) 
4. Kementerian Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Sumber Daya Air. (2013). 
5. Standar Perencanaan Irigasi Kriteria Perencanaan Bagian Perencanaan Jaringan Irigasi
6. KP-01 Kementerian Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Sumber Daya Air. (2013). 
7. Standar Perencanaan Irigasi Kriteria Perencanaan Bagian Saluran KP-03 Peraturan Pemerintah Nomor 20 tahun 2006 tentang Irigasi